Pagi ini (19/06/08) seperti biasanya selesai sholat subuh, saya memencet tombol televisi butut yang kupunyai. Maklum sebagai anak kost yang mempunyai penghasilan yang belum memadai saya belum bisa mengganti televisi yang kupunyai dengan yang terbaru. Tapi sudah cukup lah untuk mengupdate berita pada salah satu stasiun televisi favoriteku. Sembari menyaksikan berita yang sedikit serius tentang ulasan politik yang sangat kusukai, saya lakukan senam pagi yang ringan untuk menyegarkan otot-ototku yang rasanya letih. satu…dua…tiga…(kira2 sperti hitungan dalam hatiku sambil senam he..he). Senam yang sedikit tersebut membuat otot-ototku sedikit bergairah.
Saya berhenti sejenak saat ditayangkannya berita yang mengulas tentang bentroknya dua organisasi masyarakat, gara-gara pertentangan pendapat mengenai suatu paham yang menamakan diri ahmadiyah yang diputuskan sebagai aliran sesat oleh MUI. (Wah..agak serius nich tulisan) yang satu nuntut mau dibubarkan yang satu lagi menyatakan menolak pembubaran sekaligus mendukung kebebasan beragama. Dalam tulisan ini saya belum berani mengungkapkan saya analisa saya lebih mendalam. (he..he maklum baru mo belajar menulis).Tapi gambarannya dah jelas saya pro MUI lah. Saya sangat setuju kalo pemerintah tegas dalam setiap mengambil keputusan. Apalagi kalo persoalanya menyangkut tentang keyakinan beragama yang di anut oleh mayoritas penduduk dinegeri ini. Lagi pula mayoritas pemimpin negeri ini menganut agama islam yang jelas-jelas sedikit banyak tahu ajarannya yang benar. (udah…udah …pindah topik aj )
Jadi keenakan ngomongin tentang isu yang lagi heboh diTV. Keringatku mengucur dengan deras. Gara-gara Push Up (pengen kayak primus….he..he/atau pengen seperti C.Ronaldo strikernya MU). Waktu hampir mendekati pukul 6.30, sudah waktunya merasakan segarnya air, saatnya mandi. (Segeer). Guyuran air dari sebuah gayung sangat menyegarkan tubuhku
yang sedikit agak kekar (l0..lo kenapa ngak kekar sekalian). Sedikit mengkhayal jauh, jauh, jauh. (he..he…mengkhayal tentang apa tu..dikamar mandi).